Kamis, 19 Januari 2017


Jalan Salib Jelang Pembukaan Misa Tirakatan/ Novena 2017
Satu jam menjelang dimulainya misa Tirakatan/ Novena, umat yang hadir melaksanakan ibadat Jalan Salib bersama dengan mengikuti diorama Kisah Sengsara Tuhan Yesus yang ada di Taman Doa Bunda Kristus Tebar Kamulyan Subang.















 
Liputan.....
Pembukaan Misa Tirakatan/ Novena Tahun 2017 di Taman Doa Bunda Kristus "TEBAR KAMULYAN" Subang 
Kamis 19 Januarai 2017

Misa Tirakatan tahun 2017 mengambil Tema umum yaitu " Meneladani Keluarga Kudus Nasaret Berbagi Sukacita", sedangkan sub tema untuk bulan Januari 2017 adalah "Keluarga Sebagai Panggilan dan Perutusan" maka dalam pengantar dan Homilinya Romo Iwan menyoroti makna "Panggilan" dan "Perutusan" dalam keluarga. Romo Iwan sempat melontarkan pertanyaan kenapa disebut panggilan..?
Perlu disadari bahwa siapa yang menjadi pasangan kita baik itu sebagai suami maupun istri adalah pilihan kita, walaupun secara jujur kita mengakui begitu banyak wanita cantik atau pemuda ganteng yang kita temui tetapi kenapa kita menentukan dia untuk menjadi suami/ istri kita, dan ada rasa aman atau bahagia luar biasa kalau ada disampingnya..?. Disitulah terang Ilahi berperan dan itu sebuah panggilan.
Selanjutnya bagaimana perjalanan rumah tangga tentu banyak gesekan masalah atau kesalahpahaman, disitu dibutuhkan kehadiran Allah agar keluarga semakin kokoh berdiri walau banyak sekali cobaan.
Kewajiban berikutnya kita sebagai keluaga adalah bagaimana kita menampakkan hubungan kita sebagai manusia dengan Tuhan... dan kita dengan sesama itu sebagai wujud Perutusan....
Misa ditutup dengan Adorasi. Dikarenakan misa Tirakatan ini merupakan satu rangkaian Novena selama 9 kali maka besar harapan kami secara berturut turut akan lebih banyak lagi umat yang hadir dan memanfaatkan peristiwa ini agar Ujud kita dalam meledani keluarga Kudus Nasaret untuk bergabi sukacita bisa terwujud.
Usai Misa dilanjutkan dengan menikmati nasi liwet bersama di aula..... terima kasih atas kehadirannya...Tuhan memberkati...


 kasih atas kehadirannya...Tuhan memberkati...

berikut kami sajikan rekaman gambar pada saat pelaksanaan :

Rabu, 18 Januari 2017

Renungan oleh : Romo Rusbani Setiawan BS.
Catalan di Penghujung Hari
18 Januari 2017
Berbagai forum dikusi dan berbagai tulisan telah membahas tentang dinasti politik. Hampir semua pembicara dan penulis menyatakan penolakan terhadap dinasti politik. Sebenar nya sudah ada produk Undang-Undang yang melarang dinasti politik, akan tetapi Undang-Undang itu telah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi. Adakah yang salah dengan dinasti politik? Dinasti profesi pada dirinya sendiri tidak salah. sebagai contoh: dinasti guru, dinasti tentara dan sebagainya. Tidak pernah ada yang mempersoalkan soal dinasti guru atau tentara. Dinasti politik dipersoalkan karena terkait dengan usaha melanggengkan kekuasaan dan kecenderungan untuk melanggengkan ketidak baikan juga.
Politik bertujuan untuk kesejahteraan seluruh masyarakat. Kekuasaan adalah salah satu sarana untuk mencapai tujuan politik. Akan tetapi dalam praktek berpolitik, kekuasaan tidak lagi dilihat sebagai sarana untuk mencapai tujuan politik. Kekuasaan dilihat sebagai kedudukan dan prestise yang memberi keuntungan bagi yang berkuasa. Oleh karena itu dalam perebutan kekuasaan dalam politik tidak berdasar pada kesejahteraan masyarakat akan tetapi berdasarkan keuntungan pribadi atau kelompoknya. Dalam perspektif ini dapat dimengerti usaha-usaha untuk melanggengkan dinasti politik. Setelah berkuasa ingin terus berkuasa.
Ketika kekuasaan dalam politik tidak lagi dilihat sebagai salah satu sarana untuk mencapai tujuan politik yaitu kesejahteraan masyarakat maka kekuasaan diperebutkan demi keuntungan pribadi. Dan dengan demikian tidak mengherankan untuk mencapainya tidak jarang dengan menghalalkan segala cara dan masyarakat akan dipandang sebagai alat untuk mencapai kekuasaan. Jika demikian untuk apa politik?

Iwan Roes

Selasa, 17 Januari 2017

Renungan : oleh Romo Rusbani Setiawan BS.
Catatan di Penghujung Hari
17 Januari 2017
Presiden Joko Widodo, sebagaimana diberitakan Harian Kompas hari ini, mengajak semua pihak, termasuk TNI dan Polri mempunyai visi yang sama. Ajakan Presiden ini menunjukkan bahwa banyak pihak termasuk TNI dan Polri sebagai pemeran di negeri ini tidak mempunyai visi yang sama. Ajakan Presiden terasa aneh karena masih muncul di tahun ketiga masa pemerintahannya. Kalau dianalogikan Presiden sebagai konduktor sebuah orchestra dan para pemeran negeri ini sebagai pemain musiknya, betapa mengerikan orchestra itu karena setiap pemain musik bermain sendiri-sendiri semaunya tanpa mempedulikan konduktornya. Dan sudah dapat dipastikan musik yang dihasilkan oleh orchestra itu bukan musik yang enak dan nyaman untuk dinikmati.
Setiap calon pemimpin, baik pemimpin negara maupun pemimpin daerah selalu menyampaikan visi dan misinya dalam masa kampanye. Dan tidak jarang visi dan misi para calon pemimpin ini diuji dalam berbagai forum kampanye. Ketika seorang pemimpin telah terpilih dalam pemilu, maka dengan demikian visi dan misi pemimpin terpilihlah yang berlaku. Semua pemeran pemerintahan harus menyesuaikan diri dengan visi dan misi pemimpin terpilih. Perbedaan pandangan dan lain sebagainya yang terjadi selama masa kampanye seharusnya berakhir. Semua elemen menyatukan diri dengan visi dan misi pemimpin terpilih.
Kemampuan untuk menyatukan diri dengan visi dan misi pemimpin terpilih mengandaikan kedewasaan dalam berpolitik. Berani bertarung berarti siap menang dan siap kalah. Tampaknya yang banyak ditampilkan di panggung politik di negeri ini masih politisi-politisi yang belum sampai pada taraf kedewasaan berpolitik yang dibutuhkan. Kenapa politisi-politisi yang belum sampai pada taraf kedewasaan berpolitik lebih banyak merebut panggung; jangan-jangan banyak orang yang sudah mencapai kedewasaan berpolitik enggan turun kepanggung. Negeri ini membutuhkan semakin banyak orang yang mempunyai kedewasaan berpolitik untuk turun ke panggung, bukan menjadi penonton saja.

Iwan Roes

Senin, 16 Januari 2017

Renungan oleh Romo Rusbani Setiawan BS.
Catatan di Penghujung Hari
16 Januari 2017
Salah satu berita Harian Kompas hari ini mengangkat soal Populisme Mengancam Demokratisasi. Dijelaskan bahwa populisme adalah paham anti kemapanan yang cenderung menutup diri dengan karakter nasionalisme sempit. Mengutip pendapat Herry Priyono diberitakan bahwa populisme adalah gerakan mundur dari globalisasi. Ideologi sempit seperti chauvinisme, nativisme dan keagamaan sempit yang menjadi bagian populisme dijadikan alat politisi meraih keuntungan. Karena sifatnya yang dangkal isme-isme tersebut cenderung anti kemajemukan.
Apa yang dikatakan oleh Herry Priyono tersebut sekarang ini dipertontonkan di panggung politik. Banyak politisi yang menghembuskan isu-isu anti kemajemukan yang mengarah ke SARA demi meraih keuntungan pribadi atau kelompoknya. Dengan demikian essensi dan tujuan politik sudah dihilangkan. Politik bertujuan untuk kesejahteraan bersama (bonum communae). Kekuasaan, partai politik dan sebagainya adalah alat atau sarana untuk mencapai kesejahteraan bersama. Di negeri yang majemuk, kesejahteraan bersama tidak berarti kesejahteraan satu atau dua golongan saja tetapi kesejahteraan semua golongan. Oleh karenanya kalau berpolitik mengedepankan anti kemajemukan berarti meninggalkan keadaban berpolitik. Ketika politisi telah meninggalkan keadaban berpolitik apa yang akan dicapai?
Sudah barang tentu tidak semua politisi meninggalkan keadaban dalam berpolitik, namun apa yang terjadi, mereka yang meninggalkan keadaban bersuara lebih keras dan lebih banyak merebut panggung. Butuh kesadaran dan keberanian bersama untuk menampilkan wajah politik yang beradab.
Iwan Roes
AYO HADIRI 
PEMBUKAAN MISA TIRAKATAN/ NOVENA
TAHUN 2017 
di Taman Doa Bunda Kristus "TEBAR KAMULYAN" Subang - Jawa Barat

 

Minggu, 15 Januari 2017


Renungan : oleh Romo Rusbani Setiawan
Catatan di Penghujung Hari
15 Januari 2017
Berita harian Kompas hari ini dalam berita tentang debat tiga pasangan calon Gubernur DKI mengutip pendapat Triyono Lukmantoro yang memberikan penilaian bahwa banyak netizen yang aktif memberikan komentar belum diimbangi dengan kedalaman pendapat mereka. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa sebagian pengguna internet cenderung menyoroti tampilan fisik dan kelemahan calon tetapi belum sampai ke program yang ditawarkan. Tampaknya cara melihat peristiwa atau sesuatu hanya sebatas fenomena atau yang nampak di permukaan semakin menggejala pada masa sekarang ini. Banyak orang merasa cukup puas dengan hal-hal yang tampak dipermukaan , hal-hal yang lebih dalam sering dilupakan atau diabaikan. Betapa banyak keputusan-keputusan yang bersifat pragmatis yang sekarang ini disodorkan ketengah masyarakat. Artinya hal-hal yang mendasar atau akarnya tidak tersentuh. Dengan demikian banyak masalah tidak bisa diselesaikan dengan baik karena yang diselesaikan hanya fenomenanya atau yang nampak dipermukaan.
Ada pepatah bahasa latin berkaitan dengan belajar yaitu non multa sed multum yang berarti bukan banyak tetapi mendalamnya, dan non scolae sed vitae discimus yang berarti kita belajar untuk hidup bukan sekedar untuk nilai. Pepatah yang pertama menegaskan pentingnya memperdalam sesuatu dalam belajar bukan berapa banyak yang dipelajari, sedang pepatah yang kedua menekankan motivasi belajar, belajar bukan untuk mendapatkan nilai tetapi belajar adalah belajar hidup, belajar untuk mendapatkan bekal menghadapai kehidupan. Mencermati pendidikan dasar dan menengah yang terjadi sekarang ini tampaknya dua pepatah itu tidak berlaku. Sekarang ini peserta didik diberi banyak pelajaran sebagai akibatnya tidak ada pendalaman dalam belajar. Disamping itu peserta didik terpukau dengan nilai bukan manfaat dari pelajaran untuk hidup mereka. Bahkan ada banyak sekolah pada semester genap hanya fokus mempersiapkan peserta didiknya untuk menghadapai Ujian Nasional.
Kalau hal seperti itu yang terjadi dalam dunia pendidikan kita, maka tidak mengherankan kalau banyak orang mudah terpukau dengan fenomena atau hal-hal yang tampak dipermukaan dan enggan untuk mencari akar dari apa yang tampak. Tidak ada kemampuan dan sarana untuk melakukannya.
Seharusnya pendidikan yang tidak diberikan di sekolah akan diberikan di rumah. Akankah yang seharusnya itu terjadi ? atau kita kembali terjebak dengan “seharusnya”
Iwan Roes