Minggu, 09 April 2017



Renungan : oleh Romo Rusbani Setiawan  BS.
Catatan di Penghujung Hari
7 April 2017

Di awal tahun 90 an ketika saya belajar bahasa Tetun di desa Soibada di Timor Timur (Timor Leste sekarang) dalam rangka tugas di Dili, ada pertemuan di desa itu dan hadir dua orang tokoh Fretelin. Kedua tokoh tersebut menceritakan pengalaman pada waktu mereka sekolah di Soibada. Di Soibada dahulu ketika Timor Timur masih di bawah Portugis adalah tempat kolese Jesuit yang besar, dan menghasilkan banyak tokoh-tokoh yang memimpin Timor Timur. Menarik bagi saya adalah ketika kedua tokoh tersebut bercerita kenangan selama sekolah di tempat itu setiap kali menyebut nama guru-guru yang mengajar, kedua tokoh itu selalu membungkuk hormat. Sebuah kejadian yang amat langka dan belum pernah saya lihat bahwa ada orang yang menyebut nama guru-guru mereka dengan membungkuk hormat. Dalam perbincangan dengan kedua tokoh itu, mereka melakukan hal itu memang seharusnya begitu karena bagi mereka guru-guru itulah yang mengenalkan mereka pada dunia dan mimpi-mimpi untuk mengabdi pada dunia. Tanpa guru-guru di kolese ini mereka tidak akan menjadi “siapa-siapa”.
Kisah tentang guru-guru pada masa lalu selalu menjadi kisah-kisah yang dikenang dengan penuh syukur dan penuh hormat. Guru-guru di kampung-kampung pada masa lalu bukanlah seorang pendidik dan pengajar mata pelajaran bagi peserta didik di sekolah akan tetapi mereka adalah guru-guru kehidupan bagi masyarakat. Guru adalah sumber pengetahuan dan kebijaksanaan bagi masyarakat, mereka adalah pemecah masalah dalam masyarakat. Karena apa yang dilakukannya maka mereka mendapatkan tempat terhormat di masyarakat. Ketika seseorang disebut sebagai guru maka yang terbayang adalah sosok yang berilmu dan bijaksana, sosok yang “mumpuni”. Para guru itu rasanya tidak pernah disibukkan dengan tuntutan kurikulum dan tidak pula disibukkan dengan sertifikasi, namun apa yang dilakukan telah melampaui sertifikasi-sertifikasi dan apa yang dihasilkan melampaui mereka yang disibukkan oleh kurikulum.
Guru-guru pada masa lampau tidak perlu sertifikasi untuk mendudukkan diri mereka ditempat terhormat di masyarakat. Mereka tidak perlu menunjukkan bukti sertifikasi dari keahlian agar diterima sebagai guru di tengah masyarakat. Para guru di masa lampau tidak pernah melihat dan menghayati pekerjaan guru sebagai sebuah profesi. Guru adalah hidup mereka. Keseharian mereka tidak lepas sebagai guru, sejak membuka mata di awal hari hingga menutup mata di akhir hari hidup mereka adalah guru.
Pekerjaan apapun sekarang dituntut sebuah sertifikat untuk mendapatkan pengakuan atas keahliannya. Sertifikasi adalah sebuah usaha untuk menempatkan orang-orang menjadi professional pada profesinya. Guru mendapatkan sertifikasi karena guru adalah profesi dan yang diukur adalah kemampuan mengajar dalam bahasa kerennya transfer ilmu. Belajar dari pengalaman guru-guru pada masa lampau sertifikasi setinggi apapun tidak akan menghasilkan sosok-sosok yang hebat karena pekerjaan itu hanya profesi saja. Sosok yang hebat muncul dari mereka yang melihat dan menghayati “pekerjaan” mereka adalah hidup mereka.
Tidak banyak lagi sosok-sosok di negeri ini yang melihat dan menghayati “pekerjaan” sebagai hidup mereka. Padahal sosok-sosok itulah yang dibutuhkan negeri ini.

Iwan Roes




Kamis, 06 April 2017

Renungan : oleh Romo Rusbani Setiawan BS
Catatan di Penghujung Hari
6 April 2017

Di halaman gerejaku tumbuh pohon alpukat yang amat besar dengan dahan-dahan dan daun-daun yang lebat sehingga bisa menjadi peneduh. Banyak orang senang ngobrol dibawah pohon alpukat. Pohon itu sudah tua namun masih kokoh. Sejak saya tinggal di tempat gereja itu tidak pernah melihat pohon itu berbuah, hanya mendengar cerita bahwa pohon itu buah amat baik dan enak. Alpukat mentega kata orang-orang tua yang pernah melihat dan mengalami saat pohon itu masih berbuah. Beberapa waktu ada perbincangan yang mengusulkan agar pohon itu ditebang saja dan diganti dengan pohon buah yang baru. Menurut mereka yang mengusulkan agar pohon itu ditebang, alasannya kalau pohon buah harus menghasilkan buah yang dapat dinikmati, kalau pohon buah tidak menghasilkan buah yang dapat dinikmati untuk apa, tidak berguna. Sedangkan mereka yang tidak setuju dengan pohon alpukat itu ditebang beralasan, kendati pohon itu tidak berbuah akan tetapi pohon itu masih berfungsi sebagai peneduh, buktinya banyak orang senang duduk dan ngobrol di bawah pohon itu.
Mendengar pembicaraan beberapa orang tentang pohon alpukat amat menarik perhatian. Bukan soal ditebang atau tidak akan tetapi pernyataan kalau pohon buah maka yang diharapkan adalah buahnya. Akan tetapi bila pohon buah itu tidak berbuah minimal masih bermanfaat sebagai peneduh sehingga menjadikan alasan untuk tidak ditebang. Setiap manusia tentu diharapkan menghasilkan buah dari hidupnya. Sebagai pemimpin dan pelayan masyarakat buahnya adalah kesejahteraan seluruh masyarakat, politisi buahnya adalah perjuangan untuk kesejahteraan rakyat, para penegak hukum buahnya adalah keadilan yang sama dimuka hukum bagi setiap warga masyarakat dan sebagainya. Akan tetapi bila tidak menghasilkan buah maka diharapkan minimal dapat memberikan perlindungan bagi orang lain. Kalau tidak menghasilkan buah dan tidak bisa memberikan perlindungan tetapi malah membuat gaduh, suasana panas terpecah belah dan menyengsarakan untuk apa?
Harus ditebang dan diganti dengan tunas yang baru?

Iwan Roes
Misa Tirakatan bersama Pastor Dominikus Adi Kristanto, Pr
Misa yang diselenggarakan hari Kamis 30 Maret 2017 di Taman Doa Bunda Kristus Tebar Kamulyan Subang dipimpin oleh Romo Adi Kristanto dengan mengambil tema " Keluarga menyadari bahwa Kehadiran Anak Adalah Titipan dan Anugerah dari Allah". Didalam renungannnya Romo Adi menyampaikan bahwa Keberadaan seorang anak dalam keluarga adalah benar-benar sebagai anugerah Allah yang luar biasa dari Allah. Kebahagiaan besar akan sangat dirasakan bilamana orang tua bisa melihat anaknya sehat dan bisa mengurus dirinya. Tapi ada banyak pilihan jika pada situasi dimana pada sebuah keluarga yang belum dikaruniai keturunan, akan banyak sekali pertimbangan, mao adobsi, dan jika punya anak pingin anak berapa 1;2 3 dst... terus mau laki-laki apa perempuan.... Tapi yang terjadi disekitar kita kadang ada keluarga yang sangat mendambakan anak perempuan tapi yang hadir seorang anak laki-laki. .. kemudian dibesarkan atau didik selayaknya anak perempuan... Alangkah baiknya jika sebelum mendapat keturunan hendaknya sebuah keluarga mempersiapkan dengan sungguh-sungguh. Pada kesempatan ini kita diajak untuk menyadari bahwa anak adalah titipan dan anugerah dari Allah dan kita tidak bisa menolaknya. Tapi ada juga saudara-saudara kita yang sudah sekian lama merindukan keturunan tapi belum juga dikaruniai, menunggu adalah sesuatu yang melelahkan, mengecewakan, menjengkelakan dan membosankan, bilamana kita tidak memiliki kekuatan maka akan putus asa. Tapi ingatlah apa yang tertulis dalam kitab Kejadian dimana Sarah dan Abraham yang telah dijanjikan oleh Allah untuk mendapat keturunan, tapi sudah begitu lama mendambakan seorang anak baru dikabulkan pada masa tua Sarah dan Abraham hal ini sebagai bukti bahwa Allah akan selalu menepati janji yang telah diucapkan oleh Allah. Jadi Allah akan selalu menepati janjinya maka percayalah jika hal itu tak akan ada suatu apa pun yang dapat mengahalanginya. Sungguh Anak adalah titipan dan anugerah dari Allah. Maka hendaknya kita memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak kita, dengan sungguh-sungguh. Di jaman modern seperti saat ini ini tidak cukup kita menyapa anak hanya melalui Video Call. Keluarga yang doa secara bersama sama maka keluarga itu akan selalu diberkati oleh Tuhan. Untuk itu sebagai orang tua hendaknya menyadari bahwa Rahmat Alllah akan sungguh sungguh dijalani dengan setia dengan menanamkan iman kepada anak. Karena Iman adalah sebagai pondasi yang kuat sebagai bekal agar anak tumbuh sebagai pribadi yang utuh, dengan begitu anak akan bisa bersyukur atas Rahmat allah yang telah diterimanya...Misa ditutup dengan adorasi, bayak umat yang datang dari Jakrta, Bogor, Tangerang, Karawang, Purwakarta, Bandung, Pamanukan dan juga Subang sendiri. Kami atas nama Panitia Taman Doa mengucapkan terima kasih atas kehadirannya, mohon maaf jika pelayanan kami kurang berkenan....Tuhan memberkati







































Rabu, 05 April 2017

Renungan : oleh Romno Rusbani setiawan BS.
Catatan di Penghujung Hari
5 April 2017

Head line harian Kompas hari ini dengan judul MA – DPD Permainkan Hukum mengupas wakil ketua Mahkamah Agung memimpin upacara pengambilan sumpah jabatan pimpinan Dewan Perwakilan Daerah. Pengambilan sumpah pimpinan DPD oleh wakil ketua MA menjadi persoalan karena sebelumnya MA telah mengeluarkan amar putusan yang membatalkan Peraturan DPD Nomor 1 Tahun 2016 dan Peraturan DPD Nomor 1 Tahun 2017. Dengan putusan MA tersebut maka DPD tidak punya dasar hukum untuk memilih unsur pimpinan DPD periode April 2017 sampai September 2019. Maka menjadi aneh bahwa MA melanggar putusan pengadilan yang dibuatnya sendiri.
Ada Apa dengan Mahkamah Agung? Sebelum masalah pengambilan sumpah, MA telah menjadi sorotan berkaitan dengan salah ketik atas amar putusan tentang pembatalan dua Peraturan DPD, sehingga menjadi polemik di DPD mengenai keabsahan putusan. MA menegaskan kesalahan ketik tidak mengubah esensi putusan MA dan mengikat secara hukum. Mahkamah Agung adalah benteng keadilan di negeri ini, berbagai upaya pencari keadilan bermuara di MA dan kemudian mengikat bagi semua yang berpekara. Dengan peristiwa ini menjadikan orang meragukan integritas dan kapabilitas MA. Betul bahwa MA punya hak dan kemampuan diskresi akan tetapi diskresi tidak berarti menabrak putusan pengadilan yang telah dibuatnya. Seharusnya diskresi dibuat berdasarkan norma-norma moral dan keadilan yang lebih baik bagi masyarakat negeri ini. Perilaku MA tidak menunjukkan bahwa mereka sadar bahwa lembaga dimana mereka mengabdi adalah benteng terakhir keadilan di negeri ini.
MA dan lembaga peradilan di bawahnya seharusnya menjadi lembaga atau institusi yang independen bebas dari pengaruh praktek politik praktis dan penguasa. Betapa mengerikan ketika institusi peradilan ini ditarik ke wilayah politik praktis, karena institusi akan menjadi alat politik dan kehilangan independesinya. Namun demikian rasanya amat susah membebaskan institusi peradilan dari kepentingan politik praktis. Para Hakim Agung , untuk bisa menjadi Hakim Agung melalui proses politik yaitu dipilih oleh DPR. Sementara banyak contoh proses pemilihan di DPR didasarkan pada integritas dan kapabilitas akan tetapi pada kepentingan partai-partai politik. Maka tidak mengherankan bahwa dalam proses pemilihan semacam itu terjadi lobi-lobi politik yang patut diduga ada unsur transaksi-transaksi saling menguntungkan. Orang-orang berintegritas dan kapabilitas tinggi dengan idealisme menempatkan lembaga hukum sebagai lembaga independen seringkali terpental jauh.
Ada ungkapan masuk lewat pintu mereka dan keluar lewat pintu kita kiranya cara yang harus ditempuh oleh orang-orang berintegritas dan capabilitas tinggi untuk memperjuangkan idealismenya. Tapi bukankah ketika “lewat pintu mereka” berarti mengorbankan integritasnya?

Iwan Roes

Senin, 03 April 2017

Renungan : oleh Romo Rusbani Setiawan BS.
Catatan di Penghujung Hari
3 April 2017

Dalam berita Harian Kompas Hari Minggu tanggal 2 April di bawah judul Negara Tak Boleh Kalah memberitakan penenggalaman 81 kapal ikan ilegal di seluruh Indonesia. Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan bahwa pemindahan komando penenggelaman di Ambon karena ingin menunjukkan bahwa di Maluku Pemerintah Indonesia tetap berdaulat dan NKRI tidak boleh kalah oleh mafia illegal fishing. Langkah tegas dan berani Susi Pudjiastuti mendapat apriasiasi dan dukungan banyak orang meski pada awal karyanya sering mendapatkan tantangan dan cibiran. Keberanian dan konsitensi serta integritasnya mampu mengalahkan para pencibirnya.
Negeri ini butuh banyak pejabat seperti Susi yang berani mengatakan dan bertindak bahwa Pemerintah Indonesia tetap berdaulat dan NKRI tidak boleh kalah oleh mafia. Negeri ini penuh dengan mafia dari mafia kelas teri sampai kelas kakap, dari mafia yang berjubah birokrat sampai mafia yang berjubah agama. Maka tidak mengherankan kalau hampir tidak ada satu bidangpun yang tidak ada mafianya. Mafia telah menjerat dan menguasai banyak penyelenggara negara dan pelayan masyarakat. Ada semacam simbiosis mutualisme antara para mafia dan penyelenggara negara serta pelayan masyarakat. Maka karenanya negara sering dirasakan tidak hadir dan Pemerintah tidak berdaulat. Akibat dari semua itu rakyatlah yang banyak dirugikan, yang paling kentara adalah mahalnya harga kebutuhan pokok serta mahalnya harga keadilan bagi masyarakat.
Mafia yang bertindak bagai lintah menyedot kesejahteraan rakyat hanya mungkin disingkirkan bila para penyelenggara negara dan pelayan masyarakat punya integritas tinggi dan sadar betul akan tugas dan tanggung jawab terhadap negara dan masyarakat, serta punya nyali dan untuk “bertempur” dalam waktu yang panjang dan konsisten. Tanpa kemampuan-kemampuan tersebut mereka hanya akan menjadi alat penghisap untuk para mafia atau tersingkir dari system yang telah dikuasai mafia.
Negeri ini banyak menyediakan orang baik tapi tidak banyak yang punya nyali dan energi untuk “bertempur” dalam yang panjang dan konsiten.

Iwan Roes

Minggu, 02 April 2017

Renungan : oleh Romo Rusbani Setiawan BS.
Catatan di Penghujung Hari
2 April 2017

Beberapa waktu lalu beredar berita Operasi Tangkap Tangan berkaitan kasus suap terhadap pejabat teras PT PAL. Apa kira-kira tanggapan masyarakat dengan berita tersebut. Bagi beberapa orang berita tersebut kiranya mengejutkan karena lagi-lagi pejabat tertangkap operasi tangkap tangan, seolah-olah tidak ada jeranya para pejabat “bermain-main” dengan jabatannya. Akan tetapi mungkin ada banyak orang yang merasa berita tersebut bukan berita mengejutkan dan heboh karena sudah banyak dan sering terjadi. Pertanyaan yang mendasar adalah apa yang terjadi dengan negeri ini berkaitan dengan korupsi?
Harus diakui bahwa korupsi di negeri ini sudah menjadi penyakit yang akut, namun persoalannya sebagian besar dari mereka yang berada pada posisi berpotensi jatuh dalam kasus korupsi tidak melihat korupsi sebagai penyakit akut, melainkan menikmatinya sebagai kesenangan. Akibatnya orang yang melihat korupsi sebagai penyakit akut akan tersingkir atau disingkirkan, bahkan banyak orang menciptakan kondisi agar korupsi tetap bisa terjadi. Dengan situasi semacam itu sadar atau tidak, sengaja atau tidak tercipta system yang korup. Sehingga orang yang berada dalam system itu mesti korupsi kalau tidak korupsi maka akan berada di luar system itu.
Bertolak dari kasus korupsi yang menjerat para pejabat, maka bisa dipertanyakan kualitas dan integritas para pejabat yang korup. Banyak dari mereka yang telah menandatangani pakta integritas anti korupsi dan meneriakan anti korupsi kemudian terjerat kasus korupsi. Adakah mereka terjerat oleh keserakahan sehingga lupa diri istilah yang sering muncul khilaf sehingga terjerat korupsi atau mereka terjerat oleh sebuah system yang korup dan tidak berani untuk berada di luar system itu.
Bila demikian akankah korupsi bisa diberantas di negeri ini? Kiranya usulan salah satu anggota DPR untuk memotong satu generasi pejabat, sehingga ada pembaharuan orang dan system. Namun kemudian muncul pertanyaan, sebagian besar pejabat-pejabat adalah hasil fit and proper dari DPR dan DPR yang memutuskan. Sementara sebagaimana -diketahui DPR disebut sebagai lembaga yang paling korup, mungkinkah lembaga yang korup dapat memilih pejabat yang tidak korup? Kiranya yang dibutuhkan adalah orang-orang baik dan berintegritas tidak tinggal diam dan semakin banyak orang yang tidak takut untuk diluar system bila system itu korup.
Dibutuhkan orang-orang yang optimis untuk memberantas korupsi di negeri ini.

Iwan Roes
Renungan : oleh Romo Rusbani Setiawan BS.
Catatan di Penghujung Hari
31 Maret 2017

Perangkat komputer atau gadget bila kelebihan beban akan menjadi lambat dalam merespon perintah, menjadi eror atau bahkan menjadi tidak bisa dipergunakan. Salah satu cara untuk mengatasi hal itu biasanya adalah menghapus beberapa data yang tidak perlu sehingga beban berkurang dan memulai proses awal. Cara lain yang biasa dilakukan adalah menambah kemampuan penyimpanan; itu bisa dilakukan kalau perangkat memungkinkan untuk ditambah kapasitas penyimpanannya. Cara yang paling mudah adalah mengganti perangkat dengan kapasitas yang sesuai dengan kebutuhan. Akan tetapi apa yang terjadi apabila manusia yang kelebihan beban ?
Sebuah media cetak Nasional memberitakan bahwa penduduk Jakarta kelebihan beban. Kelebihan beban dalam konteks ini adalah beban psikologis yang ditanggung oleh penduduk Jakarta amat berat. Beban yang amat berat adalah beban dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup yang layak, bahkan banyak yang terbebani untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup yang amat dasar. Sebagian besar penduduk Jakarta bertempat tinggal jauh dari tempat mereka bekerja. Dari sisi ini sudah ada beban dalam usaha mencapai tempat bekerja berhadapan dengan usaha mendapatkan transportasi umum dan atau kepadatan lalulintas. Di samping itu masih banyak hal dapat disebut yang berpotensi menjadi beban bagi penduduk Jakarta. Dengan adanya begitu banyak beban maka menjadikan kelelahan baik fisik maupun psikis akibat yang paling menonjol adalah kemampuan mengontrol emosi menjadi rendah dan kemampuan untuk mencerna sesuatu menjadi rendah pula. Bukan berarti menjadi bodoh tetapi kemampuan untuk bernalar dan menimbang dengan jernih menjadi luntur. Beban yang berlebihan dengan akibat turunnya kemampuan mengontrol emosi dan bernalar serta menimbang dengan jernih mudah sekali terpicu dengan hal-hal yang menyentuh sisi sentimen mereka.
Tampaknya hal tersebut ditangkap oleh orang-orang tertentu yang ingin memanfaat kelemahan mereka untuk kepentingan politik atau kepentingan golongan tertentu. Isu penistaan agama adalah salah satu isu yang menyentuh sentiment mereka dan mempunyai daya ledak yang amat kuat. Gerakan-gerakan yang dikenal dengan 411, 212 dan sekarang 313 menunjukkan hal tersebut. Mereka yang ikut gerakan itu sebagian besar tidak melihat atau mendengar pidato Ahok di Pulau Pramuka, bahkan sebagian besar para penggerak juga tidak. Namun isu penistaan agama bisa menggerakan begitu banyak orang. Artinya mereka yang ikut gerakan itu tidak mampu menggunakan nalar dengan jernih; karena untuk yang bernalar jernih pasti akan menilisik tentang kebenaran dari sebuah berita. Betapa menyedihkan kelemahan bukan dibantu dicarikan untuk menemukan jalan keluar akan tetapi justru dimanfaatkan untuk kepentingan politik dan atau kepentingan golongan tertentu.
Betapa jahat mereka yang memanfaat kelemahan penduduk akibat kelebihan beban ini. Karena tanpa disadari mereka meletakkan beban baru atas mereka yang kelebihan beban.

Iwan Roes